
Oleh: Ahmad MS
“Apa yang dilakukan oleh Khilafatul Muslimin terhadap nasib Kaum Muslimin di Palestina yang dijajah Israel?”, “Apa upaya Khilafatul Muslimin dalam mengentaskan kemiskinan ummat?”, “Apa usaha dari Khilafatul Muslimin dalam rangka menangkal serangan musuh-musuh Allah terhadap ummat Islam?”, berbagai pertanyaan tersebut diatas dan masih banyak pertanyaan serupa lainnya begitu akrab di telinga warga Khilafatul Muslimin, terutama para da’i yang banyak waktunya digunakan untuk mendakwahkan pelaksanaan sistim Khilafah.
Berbagai pertanyaan tersebut tentu saja menunjukan pemahaman ummat akan pentingnya mewujudkan sistim Khilafah, sekaligus juga mewakili banyak harapan dari mereka terhadap sebuah institusi jama’ah yang bernama Khilafah, sebagai tempat bernaung, menuntut rasa aman dari bahaya, menuntut kesejahteraan dari kemelaratan, menuntut pembebasan dari penjajahan atas sebuah negeri dan masih banyak harapan lainnya.
Karena sejatinya, sistim Khilafah dan Khalifahnya memang berfungsi memenuhi seluruh harapan tersebut, bahkan mencakup seluruh bidang kehidupan manusia yang memungkinkan. Maka, semua pertanyaan dan tuntutan ummat hari ini bisa dikatakan sangatlah tepat dan ideal, sebagaimana hadits Rasulullah salallaahu alaihi wasallam:
“Seorang Imam ( Khalifah ) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat, dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya.” ( HR. Bukhari ).
Yang
kemudian menjadi masalah adalah ketika Khilafah kini belum mencapai kondisi
ideal untuk dituntut terlalu banyak dan terlalu tinggi sebagaimana yang mereka
sampaikan, karena dukungan ummat, termasuk mereka yang banyak menuntut belum
lagi nyata terhadap sistim ini, apalagi bisa diharap menjadi mujahid yang siap
berkorban harta dan jiwanya. Banyaknya masih sebatas mereka yang hanya
berharap, sementara tenaga dan pikirannya tidak pernah menjadi bagian dari
perjuangan ini atau malah dicurahkan untuk suatu perjuangan yang bersifat
parsial, bahkan mereka masih andil pada suatu sistim yang menentang hukum
Allah, sehingga tuntutan yang ideal tersebut menjadi ‘tidak realistis’ adanya.
Bila kita tengok kembali kepada sejarah generasi awwal ummat ini, yaitu para sahabat Rasulullah sallallaahu alaihi wa sallam dalam menyambut isyarat wahyu, mereka tunduk patuh sepenuhnya dengan satu prinsip yang cukup agung dengan mengatakan: “Kami dengar dan Kami taat.” (Qs Al Baqarah: 285), sehingga hampir tidak ada waktu terlewatkan bagi para sahabat kecuali dalam keadaan berjuang memperpendek jarak antara kondisi realitas mereka dengan keinginan syari’at yang mereka pahami. Sehingga pantaslah jika mereka mendapatkan anugerah hidup dalam kemuliaan, mendapatkan ridho Allah dunia hingga akhirat. Allah subhaanahu wa ta’ala menggambarkan:
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.(QS At Taubah: 100).
Bersesuaian dengan ayat tersebut Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam memberi rekomendasi lewat sabda beliau:
“Sebaik-baiknya manusia adalah pada generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka”. (HR. Mutafaq ‘alaih).
Sami’na wa atho’na, sebagai semangat unggulan para sahabat menjadi salah satu asbab utama kemenangan perang Badar Kubra sebagai perang yang fenomenal dan awal dalam Islam. Dikala pengkhianatan kaum munafik mulai nampak merusak formasi pasukan Badar, seorang sahabat besar Al Miqdad bin Amr berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, majulah terus seperti yang diperlihatkan Allah kepada engkau. Kami akan bersama engkau. Demi Allah, kami tidak akan berkata kepada engkau sebagaimana Bani Israel yang berkata kepada Musa, ‘Pergi engkau sendiri bersama Robb-mu lalu berperanglah kalian berdua. Sesungguhnya kami ingin duduk menanti di sini saja’. Tetapi ( kami akan berkata ) pergilah engkau bersama Robb-mu lalu berperanglah kalian berdua, dan sesungguhnya kami akan ikut berperang bersama kalian berdua. Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, andaikata engkau pergi membawa kami ke dasar sumur yang gelap, maka kami pun siap bertempur bersama engkau hingga engkau berhasil mencapai tempat itu.” Pernyataan Al Miqdad bin Amr ini disambut dengan suka cita dan do’a kebaikan oleh Rasulullah, pernyataan yang dibuktikan dengan nyata oleh para sahabat sehingga Rasulullah kemudian berhasil membawa pulang kemenangan gemilang dari lembah Badar.
Para sahabat radhiyallaahu anhum ajma’in dimasa lalu memang menyimpan harapan besar bagi kemenangan Islam dan kaum Muslimin dihati mereka, sebelum mereka meraihnya, sebagaimana harapan yang bersemayam di hati kaum Muslimin hari ini. Namun mereka ( para sahabat ) membangun harapan tersebut diatas komitmen dalam shaff jama’ah dengan cara beriman, berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwa mereka sebagai pembuktian iman yang benar. Sehingga hampir tidak ada jarak sedikitpun antara kondisi realitas mereka dengan apa yang menjadi tuntutan syari’at, dengan kata lain; mereka adalah manusia-manusia yang hidup dengan idealisme tinggi namun selalu realistis dalam bersikap dan bertindak. Kehidupan mereka seperti digambarkan oleh Allah subhaanahu wa ta’ala dalam firman-Nya:
Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (QS. At Taubah : 20 ). Walaahu a’lam bi ash showaab!
Bila kita tengok kembali kepada sejarah generasi awwal ummat ini, yaitu para sahabat Rasulullah sallallaahu alaihi wa sallam dalam menyambut isyarat wahyu, mereka tunduk patuh sepenuhnya dengan satu prinsip yang cukup agung dengan mengatakan: “Kami dengar dan Kami taat.” (Qs Al Baqarah: 285), sehingga hampir tidak ada waktu terlewatkan bagi para sahabat kecuali dalam keadaan berjuang memperpendek jarak antara kondisi realitas mereka dengan keinginan syari’at yang mereka pahami. Sehingga pantaslah jika mereka mendapatkan anugerah hidup dalam kemuliaan, mendapatkan ridho Allah dunia hingga akhirat. Allah subhaanahu wa ta’ala menggambarkan:
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.(QS At Taubah: 100).
Bersesuaian dengan ayat tersebut Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam memberi rekomendasi lewat sabda beliau:
“Sebaik-baiknya manusia adalah pada generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka”. (HR. Mutafaq ‘alaih).
Sami’na wa atho’na, sebagai semangat unggulan para sahabat menjadi salah satu asbab utama kemenangan perang Badar Kubra sebagai perang yang fenomenal dan awal dalam Islam. Dikala pengkhianatan kaum munafik mulai nampak merusak formasi pasukan Badar, seorang sahabat besar Al Miqdad bin Amr berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, majulah terus seperti yang diperlihatkan Allah kepada engkau. Kami akan bersama engkau. Demi Allah, kami tidak akan berkata kepada engkau sebagaimana Bani Israel yang berkata kepada Musa, ‘Pergi engkau sendiri bersama Robb-mu lalu berperanglah kalian berdua. Sesungguhnya kami ingin duduk menanti di sini saja’. Tetapi ( kami akan berkata ) pergilah engkau bersama Robb-mu lalu berperanglah kalian berdua, dan sesungguhnya kami akan ikut berperang bersama kalian berdua. Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, andaikata engkau pergi membawa kami ke dasar sumur yang gelap, maka kami pun siap bertempur bersama engkau hingga engkau berhasil mencapai tempat itu.” Pernyataan Al Miqdad bin Amr ini disambut dengan suka cita dan do’a kebaikan oleh Rasulullah, pernyataan yang dibuktikan dengan nyata oleh para sahabat sehingga Rasulullah kemudian berhasil membawa pulang kemenangan gemilang dari lembah Badar.
Para sahabat radhiyallaahu anhum ajma’in dimasa lalu memang menyimpan harapan besar bagi kemenangan Islam dan kaum Muslimin dihati mereka, sebelum mereka meraihnya, sebagaimana harapan yang bersemayam di hati kaum Muslimin hari ini. Namun mereka ( para sahabat ) membangun harapan tersebut diatas komitmen dalam shaff jama’ah dengan cara beriman, berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwa mereka sebagai pembuktian iman yang benar. Sehingga hampir tidak ada jarak sedikitpun antara kondisi realitas mereka dengan apa yang menjadi tuntutan syari’at, dengan kata lain; mereka adalah manusia-manusia yang hidup dengan idealisme tinggi namun selalu realistis dalam bersikap dan bertindak. Kehidupan mereka seperti digambarkan oleh Allah subhaanahu wa ta’ala dalam firman-Nya:
Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (QS. At Taubah : 20 ). Walaahu a’lam bi ash showaab!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar